b. Pertemuan Kedua Copy

  • Placement IG mendapatkan ctr link click yang cukup oke

Bagaimana hasil testingnya apakah sudah indah ?

Ternyata masih belum, shiiit

Tapi ada kabar baik.

Campaign dengan placement di Instagram saja, jika dilihat dari ctr link click, lumayan bisa tembus diatas 1%, seperti yang sudah saya infokan sebelumnya, untuk Instagram ini cukup oke. Dan kalo sebelumnya menggunakan semua penempatan termasuk Facebook, nah sekarang sudah full di IG. Berarti memang beneran segitu angka ctr link click dan punya kesempatan yang lumayan untuk bertanding di Instagram.

Tapi kenapa kok hasilnya gak indah ?

  • Flow website yang kurang user friendly

Coba kita analisa dashboard diatas.

Client saya ini menggunakan halaman kategorinya sebagai landing page, bukan halaman produk. Karena sebagian dari kalian mungkin ada yang belum ngerti dengan halaman kategori, gambarannya seperti ini.

Saya pake contoh dari Heymale kali ini, bukan dari client saya yang ini karena saya malas minta izin…wkwk

Halaman kategori itu isinya adalah kumpulan varian, misal varian warna atau motif seperti contoh diatas.

Bisa juga kumpulan varian model, bisa varian model jas seperti contoh diatas.

Sampai sini sudah paham ya ?

Karena disini adalah halaman kategori, maka dapat dipastikan orang yang mendarat disini akan masuk keluar dari produk a ke produk b dan seterusnya, tergantung minat si orang tersebut. Gambarannya seperti ini…

[pic maybe]

Misal masuk ke halaman produk a lalu keluar balik ke halaman kategori dan masuk ke produk b.

Apa konsekuensinya kalau alurnya seperti itu ?

Sebagian orang akan bingung,

Sebagian orang malas karena muter-muter

Sebagian lagi mungkin tertarik lihat-lihat

Apa buktinya ?

Halaman kategori disini terkategorikan sebagai landing page view. Setelah itu adalah content views alias halaman produk. Mungkin ada yang masih gak ngerti halaman produk ? yawes tak kasih lihat nih.

Pake contoh dari Heymale lagi, halaman produk itu adalah halaman untuk add to cart ataupun checkout produk, standard e-commerce pada umumnya. Sudah paham ya guys ? oke lanjut..

Kalo kita lihat dashboard tadi, persentase dari landing page ke view content view angkanya malah bisa jadi lebih banyak, laaah ini kan aneh ya ?

Perpindahan traffic itu sewajarnya mengecil, tapi kok malah lebih besar ?

Ini terjadi karena 1 orang keluar masuk dari halaman produk ke halaman kategori tadi. Dan satu orang bisa mengakses lebih dari 1 halaman produk. Oleh karena itu angkanya bisa lebih banyak di content view (halaman produk).

Angka menandakan 3 kemungkinan yang sudah saya infokan tadi

Sebagian orang bingung,

Sebagian orang malas karena muter-muter

Sebagian lagi mungkin tertarik lihat-lihat

Perlu diingat bahwa halaman kategori itu tidak salah. Hanya saja jika digunakan untuk iklan, saya menemukan di beberapa client kurang maksimal.

Setelah content view lanjut ke add to cart, disini angkanya adalah 15,70%. Nah yang zooong banget itu setelah ini.

Dari add to cart ke checkout sepertinya terlihat indah ? dari 30 orang, 27 orang lanjut ke checkout. Tapi, setelah itu gak ada yang lanjut bayar !

Apa yang menyebabkan hasilnya mbelgedheeez ?

Dugaan terkuatnya adalah platform yukbisnis. Flow dan ui ux yang kurang familiar untuk target market brand client saya. Client juga mengiyakan memang seperti itu. Dan beberapa customer client saya melaporkan ketika order, halaman bisa gak muncul ataupun lambat.

Disini saya menginformasikan sesuai fakta yang terjadi pada saat itu. Tidak ada niatan untuk menjelekan brand yukbisnis untuk platform toko online, atau bisa jadi masukan.

Kembali ke client…

Lalu apa solusinya ?

Pindah platform lah tentunya !

Client saya memilih Berdu sebagai penggantinya. Pas di pertemuan ini ternyata sudah mulai proses migrasi. Untuk hasilnya apakah jauh lebih bagus ? nanti akan ada penjabarannya di pertemuan ketiga. Just wait ya….

  • Budgeting Minimal ?

Mas untuk budget minimal itu berapa ?

Pertanyaan client saya ini saya yakin juga ditanyakan oleh kamu, ya apa iya ?

Berdasarkan pengalaman saya melayani konsultasi sejak 2019 sampai detik ini. Saya menyarankan seminalnya Rp 3,000,000 untuk 1 bulan (30 hari). Digunakan apa saja budget segitu ?

1 Campaign 1 adset dan 1 konten iklan

Angka ini muncul karena rata CPM di Indonesia itu paling mahal biasanya di 50an ribu. Dibawah itu banyak tentunya. Yang sampai 100an ribu juga ada tapi sangat jarang. Dengan budget 3jt tadi maka per harinya adalah 100rb untuk 1 adset dan 1 konten iklan. Jadi aman kalo sampe dapet CPM 50an ribu atau bahkan 100an ribu. Dapet CPM dibawah itu pasti ngacir.

Berarti gak bisa testing variabel lain ?

Ya iya berarti…wkwk

Kalo mau testing variabel lain bisa naikan budget ke 6jt.

Atau kalo mau tetap memaksa budget 3jt tapi testing lebih dari 1 variabel. Konsekuensinya iklan akan lebih lambat.

Anyway, ini berdasarkan pengalaman saya melayani konsultasi.

  • Kalo sudah closing website, apakah Whatsapp ditinggalkan ?

Mungkin sebagian orang menganggap kalau closing di website itu berarti tanpa ada interaksi sama sekali lewat Whatsapp. Ternyata gak gitu juga guys.

Walaupun sistem closing di Website sudah dimaksimalkan, fitur Whatsapp tetap harus ada. Kegunaannya ada dua.

Yang pertama adalah sebagai fitur bantuan. Misal ada yang mau tanya-tanya dulu sebelum checkout. Atau mungkin ada pertanyaan seputar produknya. Disini fitur whatsapp akan sangat membantu.

Yang kedua adalah sebagai alternatif transaksi. Sebagian dari customer kalian akan tetap memilih transaksi via Whatsapp atau menanyakan marketplace kamu lewat Whatsapp. Namun ini juga tergantung produk dan marketnya juga sih.

Porsinya gimana mas ?

Apakah lebih banyak yang checkout di website dibanding chat whatsapp ?

Tidak menentu dan sekali lagi tergantung produk dan marketnya.

Berdasarkan pengalaman konsultasi, ada salah satu client yang dengan brand fashion yang setiap harinya angkanya bisa berubah-berubah. Coba kalian bisa cek selengkapnya untuk case study client ini nanti disini (link ke client 145)

Walaupun angkanya berubah-ubah, dengan menggunakan checkout di website itu bisa mengurangi beban kerja CS kalian. Gak pake CS tapi ada closingan, i like that !

Penerapannya di Berdu gimana mas kalo tetap ada Whatsapp ?

Mirip seperti itu, di Berdu kalian pokoknya di pojok kanan ada tombol whatsapp harus ada. Kecuali halaman add to cart dan checkout. Silahkan bisa tracking menggunakan event contact. Kalo event lead nganggur juga bisa digunakan sebagai alternatif.

Pastikan juga nanti ketika customer checkout, ada notifikasi ke Whatsapp customer.

  • Flow & tampilan website

Ternyata client saya sudah memproses proses migrasi ke Berdu, 90% sudah kelar, hanya butuh beberapa perbaikan. Kalian bisa ikuti apa yang dilakukan oleh client saya menggunakan Berdu.

Untuk tampilan home website seperti pada umumnya. Silahkan bisa contoh tampilan thenblank.com

Jika merasa tampilan home seperti itu terlalu rumit. Bisa dibuat lebih simple juga boleh.

Ingat, home tidak digunakan sebagai landing page.

Desain halaman produk bisa ikuti juga yang digunakan oleh thenblank berikut.

Yang perlu diperhatikan disini adalah bisa pilih ukuran, ketika pilih warna pastikan juga gambarnya juga berubah, ada deskripsi dan size guide (panduan ukuran).

Bedanya di client saya adalah bisa add to cart ataupun langsung checkout. Saya lebih menyarankan seperti ini juga.

Urutan pixel harap diperhatikan juga karena di client saya ini setelah saya cek ada kesalahan.

Btw, ini khusus untuk Berdu dulu ya karena client saya menggunakan platform ini.

Untuk pixel Pageview, sudah pasti ada di semua halaman.

Pixel View Content letaknya ada di halaman produk. Pastikan ada detail info produknya, contohnya seperti gambar dibawah :

Lebih detailnya seperti berikut..

Lalu tombol add to cart (tambah keranjang) menggunakan pixel add to cart. Di halaman keranjang, tombol checkout menggunakan pixel initiate checkout.

Tapi jika customer pilih menggunakan tombol beli sekarang, apa pixelnya ?

Gunakan initiate checkout karena ketika di klik akan langsung ke checkout form.

Setelah mengisi checkout form, di berdu akan pindah ke thank you page (halaman terima kasih). Kesalahan client saya disini adalah menggunakan pixel purchase. Nah ini salah, tau kenapa ?

Ketika ada yang checkout, tidak semua langsung bayar, betul ya ?

Semuanya akan berakhir ke thank you page. Pixel jadi gak akurat.

Khusus untuk flow seperti ini, di thank you page gunakan pixel add payment info. Tapi gimana mas dengan mereka yang udah bayar otomatis pake virtual account misal ?

Untuk kebutuhan tracking aktivitas pembayaran otomatis, bisa aktifkan Facebook Conversion API di Berdu. Secara teknis nanti yang ter-tracking adalah aktivitas “bayar”. Misal ada orang checkout menggunakan BCA Virtual Account dan dia melakukan pembayaran. Nah “customer sudah bayar” itu akan trigger (mematik) pixel purchase.

Laah terus kalo yang bayar manual gimana mas ?

Setelah nyampe di thank you page tadi. Untuk mereka yang bayarnya manual. Berdu memiliki satu halaman lagi setelah thank you page yaitu halaman konfirmasi pembayaran. Di halaman ini tidak ditanam pixel spesifik, cukup pixel umum page view. Yang perlu ditanam pixel adalah tombol yang digunakan untuk konfirmasi sudah melakukan pembayaran. Pixel yang digunakan adalah purchase.

Dari semua urutan pixel tadi jika dibuat bagan, gambarannya berikut :

Selain pixel, silahkan lengkapi metode pembayaran. Jangan hanya transfer doang. Harus ada virtual account, qris, dan pembayaran otomatis lainnya. Khusus Berdu saya menyarankan menggunakan payment gateway dari Duitku.

  • Pay Later aka the magic money

Seperti kita tahu bahwa pay later semakin hari semakin menjamur. Iklannya juga dimana-mana, baik dari brand pay later langsung ataupun brand-brand yang sudah support pay later. Secara bahasa, pay later itu adalah evolusi dari ngutang.

Ada sebuah penelitian di Indo yang menyimpulkan bahwa penggunaan pay later bisa meningkatkan conversion sampai 3x lipat. Atas dasar ini, saya juga menyarankan client saya. Tapi besar kemungkinan tidak mungkin bisa karena brand client saya ini adalah brand dengan value syariah.

Lucunya dan ini adalah fakta…

Client saya menginfokan bahwa selama ini transaksi di marketplace untuk brand ini itu malah banyak yang menggunakan pay later, bahkan melebihi COD. Pengennya brand itu dimatikan untuk pembayaran pay later, tapi gak bisa karena tidak diperkenankan oleh pihak marketplace.

Saya pun tercengang, wkwkwk

Dengan adanya pay later bisa meningkatkan conversion berarti memang benar apa adanya dan bisa dipertimbangkan digunakan jika memang berkenan.

  • Bagaimana kita tahu kalo iklan & produk kita sudah menyasar audience yang tepat ?

Target market kamu seperti apa ?

Silahkan bisa deskripsikan sedetail mungkin.

Tapi, sehebat apapun kamu men-deskripsikan target market. Pada akhirnya, mereka yang sudah beli produk mu, merupakan cerminan dari iklan & produk kamu.

Saya menyarankan ke client saya ini untuk analisa alamat customer yang sudah order. Tinggal dimana mereka ?

Apa hubungannya tempat tinggal dengan iklan & produk kita ?

Client saya pun pernah cek alamat customer dia yang ordernya via website. Kebanyakan dari mereka itu alamatnya di perumahan mas.

Kalo yang hobinya cod, alamatnya ? ya bisa kalian tebak lah…

Memang betul cara ini memang bias, yaitu menganggap orang yang tinggal di perumahan, apartemen, atau tempat-tempat tinggal yang kita anggap ditinggali oleh kalangan menengah – menengah ke atas merupakan indikasi bahwa mereka itu adalah kalangan menengah-menengah ke atas.

Karena bisa aja kalangan menengah-menengah ke atas gak tinggal di pemukiman seperti itu. 

Paham ya maksudnya ?

Silahkan cara ini bisa dicek. Terutama buat kalian yang masih merasa kok banyak yang cod, padahal produk dan iklan saya gak nyasar kesitu lho.

Faktanya, memang produk tertentu dengan iklan tertentu akan menarik audience tertentu.

  • Limited stock – limited edition

Dalam berjualan sering kali kita menemui praktek scarcity atau kelangkaan agar calon customer segera beli atau nanti kehabisan stock. Kalo memang beneran terbatas mah its okay. Yang menjadi problematika adalah kalo bohooongan doang. Dapat dipastikan ini akan melukai brand.

Fashion, ada dua aliran, produksi suatu model terus menerus atau memproduski suatu model dengan kuantitas tertentu karena suatu model tidak bisa dijual terus menerus. Kebetulan, client saya ini termasuk kategori yang kedua.

Setiap produk yang dijual oleh brand client saya ini modelnya terbatas. Hanya saja pada saat konsultasi, kesan terbatas ini masih kurang kerasa. So what to do ?

Pastikan di setiap halaman produk terdapat informasi produk terbatas dengan menampilkan jumlah stock. Tapi ini saja tidak cukup.

Kalian tau brand perfume HMNS ?

Beberapa produk dia yang limited itu ketika habis, maka akan diinfokan juga ke follower lewat postingan IG bahwa kemarin product X sudah terjual sekian dan sekarang udah gak ada lagi.

Bisa juga nanti diperkuat dengan retargeting,

Misal ketika stock produknya udah tinggal sedikit. Bikin tuh iklan retargeting untuk mengingatkan bahwa stock produknya udah mau habis dan kalo habis gak bakalan ada stock lagi.

Strategi ini hanya akan works the best kalo produknya sangat diminati oleh market. 

Dari semua saran saya tadi, fokus intinya di pertemuan kedua adalah pindah ke Berdu. Hasilnya seperti apa akan akan lanjutin di pertemuan ketiga.

×
×

Cart

SAYANGNYA SUDAH PENUH

Kabar baiknya jika anda memang serius ingin mengikuti program konsultasi ini. Anda bisa join waiting list agar nantinya tidak ketinggalan informasi ketersediaan slot. Karena dalam 1 hari bisa langsung penuh !

WHOOOPS,
PENDAFTARAN KELAS
SUDAH BERAKHIR !

Kabar baiknya anda yang berminat dengan materi pembelajaran di kelas ini bisa mendapatkannya secara gratis melalui program konsultasi 1 on 1 dengan FUSEEK.

COMING
SOON

Good news, we’re working on it !